Kamis, 29 September 2016

NILAI-NILAI PENGUKURAN 2


NILAI-NILAI PENGKURAN 2
Oleh:

Vera Syam Yolanda 201266004
Diki Septyan 201466027
Dea Nabilah Safitri 201466036
Rahayu Danar Wigati 201466002
Yohana Melani 201466006
Ryantika Devi F 201466051

Kelompok 4



STATISTIK I
SESI - 11










NILAI-NILAI PENGUKURAN 2
A.     MEDIAN
Median adalah salah satu teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai tengah dari kelompok data yang telah disusun urutannya dari yang terkecil sampai yang terbesar, atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil.
Misalnya dari tabel diatas, untuk mencari mediannya harus disusun terlebih dahulu urutannya. Yaitu sebagai berikut:
19, 20, 20, 35, 45, 45, 45,45,45, 51, 56, 57, 60.
Nilai tengah dari kelompok data tersebut adalah urutan ke 7, yaitu 45. Jadi mediannya = 45. Kebetulan disini mediannya sama dengan modus.[1]
Misalnya dari tabel diatas, untuk mencari mediannya harus disusun terlebih dahulu urutannya. Yaitu sebagai berikut:
19, 20, 20, 35, 45, 45, 45,45,45, 51, 56, 57, 60.
Nilai tengah dari kelompok data tersebut adalah urutan ke 7, yaitu 45. Jadi mediannya = 45. Kebetulan disini mediannya sama dengan modus.
Dijalan raya yang cukup besar sering dibangun sebuah pagar tembok yang terletakpersis ditengah dan membentang sepanjang jalan membagi arus kendaraan menjadi dua arah. Pagar seperti itu dikenal dengan sebutan median. Dalam cotoh ini,median adalah pagar atau garis yang membelah lebar jalan menjadi dua bagian sama besar. Jika lebar jalan itu seluruhnya 10 meter(setelah dikurangi median), maka lebar jalan disebelah kiri dan kanan median masing-masing 5 meter.
Dalam statistic, sejalan dengan pengertian diatas, median diartikan sebagai titik atau nilai yang membagi seperangkat data yang menjadi dua bagian sama banyak. Jika ditemukan nilai median adalah 40, maka berarti 50% data lebih kecil dari 40 dan 50% lagi lebih besar dari 40. Misalnya, median dari perangkat data berikut 4,5,6,7,8,9 dan 10 adalah 7. Dalam contoh ini, 3 buah nilai lebih kecil dari 7 dan tigabuah lainnya lebih besar dari 7. Subjek dengan skor 7 persis berada ditengah-tengah rentangan skor. Hal ini dapat terjadi jika perangkat dataitu ganjil. Kalau jumlah subjeknya genap, median akan sama dengan setengah dari dua skor yang berada di tengah-tengah.
Median dari data yang sudah dikelompokan kedalam interval kelas pada suatu daftar distribusi frekuensi dapat dihitung dengan rumus
Dimana :
Me= median
X11 = batas nyata kelas median
P= panjang kelas
n= banyak data
fk11 = frekuensi kumulatif interval kelas di bawah kelas median
f1 = frekuensi kelas median[2]
B.     KUARTIL
Kuartil (Quartile): merupakan ukuran letak yang membagi suatu distribusi frekuensi menjadi empat bagian yang sama, sehingga nilai-nilai distribusi dapat dibagi menjadi K1, K2, dan K3. Sebelum dibagi dalam empat kelompok (masing-masing 25%) data diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar.[3]
Kuartil adalah fraktil yang membagi seperangkat data yang telah terurut menjadi empat bagian yang sama. Terdapat tiga jenis bagian kuartil, yaitu kuartil bawah atau pertama (Q1) , kuartil tengah atau kedua (Q2), dan kuartil atas atau ketiga (Q3). Kuartil kedua sama dengan median.
a.       Kuartil data tunggal
Untuk data tunggal, kuartil-kuartilnya dapat dicari dengan menggunakan metode mencari median, atau rumus :
Qi = nilai yang ke  , i = 1, 2, 3
                                                                                                    

Contoh soal :
Tentukan kuartil dari data 2, 6, 8, 5, 4, 9, 12!
Penyelesaian :
Data diurutkan : 2, 4, 5, 6, 8, 9, 12
n      =         7
Qi    =         nilai ke
Qi    =         nilai ke  = 2, yaitu 4
Q2    =         nilai ke  = 4, yaitu 6
Q3    =         nilai ke  = 6, yaitu 9
b.      Kuartil data berkelompok
Untuk data berkelompok, kuartil-kuartilnya dapat dicari dengan rumus :
Qi = Bi +  - ( ∑fi )o    . C
                      fQi
 


           
Keterangan :
Bi               =          tepi bawah kelas kuartil
n                =          jumlah semua frekuensi
i                  =          1, 2, 3
                  ( ∑fi )o       =          jumlah frekuensi semua kelas sebelum kelas kuartil
C                =          panjang interval kelas
fQi               =          frekuensi kelas kuartil
Dalam mencari kuartil-kuartil tersebut, yang perlu dicari terlebih dahulu adalah kelas tempat kuartil-kuartil itu berada (kelas kuartil), yaitu sebagai berikut.
1.      Kelas Q1, jika ( ∑f1 )o ≥   (n)
2.      Kelas Q2, jika ( ∑f2 )o ≥  (n)
3.      Kelas Q3, jika  ( ∑f3 )o ≥   (n)[4]
Contoh:
Jumlah perolehan hasil penjualan barang dagangan 5 toko kelontong di Jl. Deli adalah sebagai berikut:
Toko
Xi (HasilPenjualandalam 000)
A
Rp 200,-
B
Rp 160,-
C
Rp 240,-
D
Rp 250,-
E
Rp 150,-







Untuk mencapai besarnya maka nilai data perlu disusun terlebih dahulu sesuai urutannya (mulai dari yang terkecil ke yang terbesar), seperti tabel dibawah ini:
Np. Urut Data
Nilai Data (Xi) dalamribu
1
Rp150,-
2
Rp 160,-
3
Rp200,-
4
Rp240,-
5
Rp250,-







Letak K1 = (N+1) = (5+1) = 1,5
         4           4
K1 terletak pada data antara no. 1 dan no. 2, yaitu :
Rp 150,- + Rp 160,- = Rp 155,- K1, nilainya adalah sebesarRp 155,000,-
                                       2

Letak K2 = 2(N+1) = 2(5+1) = 3
                                                4             4
K2 terletak pada data antara no.3, jadi K2 = Rp 200.000,-
                        K2 sama dengan nilai median
Letak K3 = 3(N+1) = 3(5+1) = 18 = 4,5
                                               4                      4                       4
Jadi K3 terletakpada data diantara no.4 dan no. 5 yaitu:
Rp 240.000,- + Rp 250.000,- = Rp 245.000,-
                                                2
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai-nilai sebagai berikut:
K1 = Rp 155.000,- artinya besarnya penjualan maksimum dari took kelontong yang tergolong 25% tingkat penjualannya terendah.
K2 = Rp 200.000,- artinya besaranya penjualan rata-rata seluruh toko kelontong yang didasarkan pada median.
K2 = Rp 245.000,- artinya besarnya penjualan minimum dari toko kelontong yang tergolong 25% tingkat penjulannya tertinggi.
Perhatikan cara menghitung K1, K2, dan K3 dengan menggunakan tabel data berikut:
Kelas Interval
F
TK
∑ f komulatifkurangdari (FKKD)
50-55
1
49,5
0
56-61
2
55,5
1
62-67
17
61,5
3
68-73
13
67,5
20 àletak K1
74-79
24
73,5
33 àletak K2 = 40
80-85
9
79,5
57 àletak K3 = 60
86-91
7
85,5
66
92-97
7
91,5
73


97,5
80
Untuk menghitung K1, K2 dan K3 digunakan rumus sebagai berikut:
             = T  + x
Letak = 20 maka nilai  = 67,5
Nilai  = berada pada nilai sebesar 67,5
Letak  = 40 atau berada diantara ∑ f kumulatif 33 dan 57
                        Nilai  = T + x
T      = nilai tepi kelas yang ada pada letak kuartilnya.
L       = letak kuartil
FK    = ∑ Frekuensi kumulatif yang ada dibawah letak
FK    = ∑ Frekuensi kumulatif yang ada dibawah letak
T      = 73,5 
L  =40
FK    = 33
FK    = 57
Ci         = 6
            Nilai  = T  + x
                          = 73,5 +  x 6
                                      = 73,5 + x 6 = 73,5 + 1,75 = 75,25
Nilai = sama dengan nilai mediannya sebesar 75,25
L         = letak kuartil  = 60          
T        = 79,5
FK     = 57
FK     = 66
Ci           = 6
Nilai  = T  + x
                          = 79,5 +  x 6
                                     = 79,5 +  x 6 = 79,5 + 2 = 81,5
Nilai  sama dengan nilai mediannya sebesar 81,5. Oleh karena nilainya dalam ribuan maka:
                         = Rp 75.250,-  = Rp 75.250,-,   = Rp 81.500,-
K1       = Rp 67.500, artinya bahwa besarnya tingkat konsumsi maksimum bagi rumah tangga yang tergolong 25% tingkat konsumsinya terendah = Rp 75.500,-
K2       = Rp 75.250,- artinya besarnya tingkat konsumsi rata-rata seluruh rumah tangga adalah Rp 75.250,-
K3       = Rp 81.500,- artinya besarnya tingkat konsumsi minimal bagi rumah tangga yang tergolong 25% tingkat konsumsinya tertinggi = Rp 81.500,-[5]
C.     DESIL
Pengertian-pengertian yang telah kita miliki tentang Median dan Kwartil dapat dijadikan dasar untuk memahami desil. Kita mempunyai Sembilan desil dalam tiap-tiap distribusi, yaitu desil pertama sampai desil kesembilan. Desil disingkat denganhuruf D, jadi semuanya kita mempunyai
Desil Pertama adalah suatu titik yang membatasi 10% frekuensi yang terbawah dalam distribusi.
Desil Ketiga adalah suatu titik yang membatasi 30% frekuensi yang terbawah dalam distribusi.
Desil Kedelapan adalah suatutitik yang membatasi 80% frekuensi yang terbawah dalam distribusi.[6]
Desil adalah fraktil yang membagi seperangkat data yang telah terurut menjadi sepuluh bagian yang sama. Terdapat Sembilan jenis desil, yaitu desil pertama (D1), desil kedua (D2),.., dan desil kesembilan (D9). Desil kelima (D5) sama dengan median. Cara mencari desil dibendakan anatara data tunggal dan data berkelompok.
a.       Desil data tunggal
Untuk data tunggal, desil-desilnya dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut :
  D1  = nilai ke  i( n + 1)  , i = 1, 2, . . ., 9
                               10
 




Contoh Soal :
Tentukan desil ke-3 (D3), dan desil ke-7 (D7) dari data berikut ini!
23, 30, 32, 34, 38, 38, 39, 40, 41, 43, 44, 45, 46
Penyelesaian :
D3  =          Data ke    3 (13 + 1)
                                                           10
      =          Data ke   42   =  data ke 4,2
                                 10
     
=          X4 + 0,2 (X5 - X4)
=          34  + 0,2 (38 - 34) = 34,8
D7  =          data ke   7 (13 + 1)   
                                       10
      =          data ke  98 = data ke 9,8
                               10
      =          X9 + 0,8 (X10 – X9) = 41 + 0,8 (43 – 41 )
      =          41 + 1,6 = 42,6
b.      Desil data berkelompok
Untuk data berkelompok (distribusi frekuensi), desil-desilnya dapat dicari dengan rumus
Di  =  Bi +   - (∑fi)o . C
                                fDi
 


                                                                                                                             
Keterangan :
Di       =      desil ke-i
Bi        =      tepi bawah kelas desil ke-i
n         =      jumlah frekuensi
(∑fi)=      jumlah frekuesi sebelum kelas desil ke-i
C        =      panjang interval kelas desil ke-i
fDi       =     frekuensi kelas desil ke-i
i          =     1,2,4,…,9[7]
D.     PERSENTIL
Persentil adalah fraktil yang membagi seperangkat data yang telah terurut menjadi seratus bagian yang sama. Terdapat Sembilan puluh sembilan persentil, yaitu persentil pertama (P1), persentil kedua (P2),..., dan persentil kesembilan puluh sembilan (P99). Cara mencari persentil dibedakan antara data tunggal dan data berkelompok.
a.       Persentil data tunggal
Untuk data tunggal, persentil-persentilnya dapat dicari dengan menggunkan rumus :
Pi  = nilai ke   i( n + 1)  , i = 1, 2, 3,…..,99
                            100

 


                                                                                                                         
Contoh soal :
Tentukan persentil ke-10 (P10) dan persentil ke-76 (P76) dari data berikut!
20    21      22        24        26        26        27        30        31        31
33    35      35        35        36        37        37        38        39        40
41    41      42        43        44        46        47        48        49        50
Penyelesaian :
n    =          30
P10=           nilai ke  10(30 + 1)    
                                      100
      =          nilai ke 310   = nilai 3,1
                               100
      =          X3 +  0,1 (X4 – X3)
      =          22  +  0,1 (24 – 22) = 22,2
P76=           nilai ke 76(30 + 1)
                                    100
      =          nilai ke 2.356  =  nilai ke 23,56
                                100
      =          X23  +  0,56 (X24 – X23)
      =          42  +  0,56 (43 – 42 ) = 42,56
b.      Persentil data berkelompok
Untuk data berkelompok (distribusi frekuensi), persentil-persentilnya dapat dicari dengan menggunakan rumus :
Pi  =  Bi +   - (∑fi)o . C
                                FPi

                                                                                                                     
Keterangan :
Pi     =         persentil ke-i
Bi     =         tepi awah kelas persentil ke-i
n      =         jumlah semua frekuensi
i       =         1,2,3,…..,99
(∑fi)o=       jumlah semua frekuensi sebelum kelas persentil
C     =         panjang interval kelas
FPi  =          frekuensi kelas persentil[8]



[1] Prof. DR. Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2010) hal 46-48
[2] Furqan, Ph.D, Statistik Terapan Untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 1999) hal.34
[3] Dr. Sumanto, M.A, StatistikaDeskriptif, (Yogyakarta: StatistikaDeskriptif, 2014, halaman51  - 58.
[4] Santjaka Aris, Statistik untuk penelitian kesehatan 1, Nuha Medika , Yogyakarta, 2011, hlm. 81
[5] Dr. Sumanto, M.A, Op.Cit hal.51  - 58.
[6] Prof. Drs. SutrisnoHadi, MA, 2000, STATISTIK, PenerbitAndi, hal 61
[7] Santjaka Aris, Op.Cit hlm. 84
[8] Ibid hal. 84

Sabtu, 26 Maret 2016

TUGAS EPIDEMIOLOGI
“PRESENTASE PENDERITA NON POLIO AFP DI INDONESIA PADA TAHUN 2008-2012”

RAHAYU DANAR WIGATI
201466002






FAKULTAS FISIOTERAPI
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA-2016
“PRESENTASE PENDERITA NON POLIO AFP DI INDONESIA PADA TAHUN 2008-2012”
A.     PENDAHULUAN
Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan polivirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf purat mennyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (QQ Scarlet, 2008). Penyakit polio dapat menyerang semua kelompok umur, namun kelompok umur yang paling rentan adalah 1-15 tahun. Infeksi oleh golongan enterovirus lebih banyak terjadi pada laki-laki dari pada wanita. WHO memperkirakan adanya 140.000 kasus baru dari kelumpuhan yang diakibatkan oleh poliomyelitis sejak tahun 1992 dengan jumlah keseluruhan penderita anak yang menderita lumpuh akibat polio diperkirakan 10 sampai 20 juta orang (Biofarma, 2007). Pemenuhan kriteria telah ditetapkan WHO dan berhubungan dengan persyaratan spesimen tinja untuk diuji di laboratorium. Hal yang berhubungan dengan spesimen tinja surveilans AFP antara lain ketepatan waktu pengambilan sampel yang optimum.
Acute flaccidity paralisys (AFP) atau lumpuh layu adlaah kelumpuhan yang bersifat layu (flaccid), terjadi dalam waktu kurang dari 14 hari yang bukan disebabkan oleh trauma. Lumpuh layu disebabkan oleh gangguan lower motor neuron, yaitu pada bagian badan sel di cornu anterior medula spinalis, saraf tepi sambungan saraf otot, atau otot. AFP adalah kasus lumpuh layu yang belum tentu diakibatkan oleh penyebab penyakit polio.
Surveilans AFP adalah pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus AFP pada nak usia <15 tahun yang merupakan kelompok rentan terhadap penyakit polio, dalam upaya untuk menemukan adanya transmisi polio liar. Tujuan surveilans AFP antara lain mengidentifikasi daerah yang beresiko terjadinya transmisi virus polio liar, memantau perkembangan program eradikasi polio, dan membuktikan Indonesia bebas polio.
B.     GRAFIK
Surveilans AFP tersebut dilaksanakan dalam dua hal, surveilans berbasis masyarakat maupun surveilans berbasis rumah sakit. Dalam hal ini ada dua indikator utama kinerja surveilans AFP sesuai standar sertifikasi yaitu:
1.      Non Polio AFP rate  minimal 2/100.000 populasi anak usia <15 tahun
2.      Presentase spesimen adekuat minimal 80%






Gambar 2.A.1.1
Pencapaian Non Polio AFP Rate Per 100.000 Anak Usia < 15 Tahun
Menurut Provinsi Tahun 2012
Non Polio AFP adalah kasus lumpuh layuh akut yang diduga kasus polio sampai dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium bukan kasus polio. Secara nasional, non polio AFP rate pada tahun 2012 telah memenuhi target yaitu 2,77/100.000 populasi anak <15 tahun. Namun, ada satu provinsi yang masih belum mencapai target yaitu Maluku Utara.


Grafik 2.A.1.1
Trend Capaian Indikator Kinerja Surveilans AFP di Indonesia
Tahun 2008 sd 2012
Dari grafik diatas dapat kita simpulkan. Dalam 5 tahun (2008-2012) surveilans AFP cukup baik. Non Polio AFP rate mampu mencapai tarhet yang ditetapkan dan cenderung meningkat pada tahun 2012. Untuk spesimen adekuat, indikator tersebut telah mencapai target (>80%) dan mengalami peningkatan pada 2008-2012 masih berada dibawah target (<90%).
Berdasarkan surveilans AFP, kasus non polio AFP rate menunjukkan data tertinggi pada tahun 2012 yaitu berkisar 2,77. Kasus AFP yang terjadi dimasyarakat sebagian besar terjadi bukan karena penyakit polio
C.     ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP)
Definisi kasus AFP adalah kelumpuhan flaccid (layuh tanpa penyebab lain pada ana kurang dari 15 tahun. Flaccid paralysis terjadi pada kurang dari 1% dari infeksi polivirus dan lebih dari 90 % infeksi tanpa gejala atau dengan demam tidak spesifik. Meningitis aseptik mucul pada sekitar 1% dari infeksi (Cono, J and L.N.,2002).
Gejala klinis minor berupa demam, sakit kepala, mual dan muntah. Apabila penyakit berlanjut ke gejala mayor, timbul nyeri otot berat, kaku kuduk dan punggung, serta dapat menjadi flaccid paralysis. Kelumpuhan yang terjadi secara akut adalah perkembangan kelumpuhan yang berlangsung cepat (rapid progressive) antara 1-14 hari sejak terjadinya gejala awal (rasa nyeri, kesemutan, rasa kebas) sampai kelumpuhan maksimal. Sedangkan kelumpuhan flaccid adalah kelumpuhan yang bersifat lunglai, lemas atau layuh bukan kaku, atau terjadi penurunan tonus otot (RSPI, 2004).
Di negara endemis tinggi, kasus polio yang sangat khas dapat dikenal secara klinis. Di negara dimana polio tidak ada atau terjadi pada tingkat prevalensi yang rendah, poliomyelitis harus dibedakan denga paralysis lain dengan melakukan isolasi virus dan tinja. Enterovirus lain (tipe 70 dan 71), echovirus dan coxaxkievirus  dapat menyebabkan kesakitan menyerupai paralytic poliomyelitis (Rahardjo, 1991).
1.      Penyakit Penyebab AFP  
a.       Polio Myelitis Anterior Akut
Polio Myelitis Anterior Akut adalah suatu penyakit yang menyebabkan kerusaka pada sel motorik pada jaringan saraf di tulang punggung dan batang otak. Penyakit lebih banyak disebabkan oleh virus polio tetapi bisa juga disebabkan virus lain (WHO 1994 dalam Arifah, 1998). Penyakit yang termasuk poliomyelitis anterior akut diantaranya virus polio, virus non polio, VAPP.
b.      Guillan Bare Syndrom (GBS)
Guillan Bare Syndrom (GBS) adalah salah satu penyakit saraf, juga merupakan salah satu polioneuropati, karena hingga sekarang beum dapat dipastikan penyebabnya. Namun karena kebanyakan kasus terjadi sesudah proses infeksi, diduga GBS terjadi karena sistem kekebalan tidak berfungsi. Gejalanya adlaah kelemahan otot (parase hingga plegia), biasanya perlahan, mulai dari bawah ke ata. Jadi gejala awalnya bisanya tidak bisa berjalan, atau gangguan berjalan. Sebaliknya, penyembuhan diawali dari bagian atas tubuh ke bawah, sehingga bila ada gejala sisa biasanya gangguan berjalan (Fredericks et all, dalam Ikatan Fisioterapi Indonesia, 2007)
c.       Myelitis Trensvers
Myelitis Trensvers memiliki gejala khas yaitu gangguan sesoris sesuai tingkat kerusakan, gangguan proses berkemih dan defekasi, sering sakit yang berhubungan dengan pinggang.
2.      Surveilans AFP



Skema Klasifikasi Virologi AFP
Kasus polio pasti (comfirmed polio case) adalah kasus AFP yang pada hasil pemeriksaan tinjanya di laboratorium ditemukan Virus Polio Liar (VPL), cVDPV (circulating Vaccine Derived Polio Virus), atau hot case dnegan salah satu spesipemn kontak positif VPL. Sedangkan kasus polio kompatibel adalah kasus AFP yang tidak cukup bukti untuk diklarifikasikan sebagai kasus non polio secara laboratoris (virologis) yang dikarenakan antara lain spesimen tidak adekuat dan terdapat paralysis residual pada kunjungan ulang 60 hari setelah terjadinya kelumpuhan serta spesimen tidak adekuat dan kasus meninggal atau hilang sebelum dilakukan kunjungan ulang 60 hari (Ditjen PP & PL, 2007).
D.     PERAN FISIOTERAPI DALAM KASUS AFP
Definisi kasus AFP adalah kelumpuhan flaccid (layuh tanpa penyebab lain pada ana kurang dari 15 tahun. Flaccid paralysis terjadi pada kurang dari 1% dari infeksi polivirus dan lebih dari 90 % infeksi tanpa gejala atau dengan demam tidak spesifik. Meningitis aseptik mucul pada sekitar 1% dari infeksi (Cono, J and L.N.,2002).
Fisioterapi merupakan salah satu pelaksana kesehatan yang ikut serta berperan dan bertanggung jawab dalam peningkatan derajat kesehatan, terutama yang berkaitan dengan upaya pelayanan kesehatan yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, sehingga dapat terwujud Indonesia sehat 2010 (WCPT, 1999).
Peran fisioterapi dengan melakukan intervensi, agara klien dapat melakukan Activity Daily Living (ADL) secara mandiri, memperbaiki pola berjalan, mencegah atrofi otot/deformitas pada jaringan lainnya.
E.      KESIMPULAN

Dilakukannnya Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio juga berkaitan dengan usaha mencegah semakin meningkatnya penderita AFP di Indonesia terutama anak usia <15 tahun. Namun, tidak semua AFP disebabkan oleh polio namun terdapat beberapa penyakit yang menyebabkan AFP. Penyakit AFP yang menyerang Lower Motor Neuron ini berdampak dengan kelumpuhan yang dirasakan oleh penderitanya. Sebagai tenaga fisioterapi, goal point pada kasus flaccid paralysis antara lain mencegah terjadinya perubahan pada jaringang yang terserang, meningkatan activity daily living klien, mencegah deformitas, dll. 

TUGAS EPIDEMIOLOGI "PRESENTASE PENDERITA NON POLIO AFP DI INDONESIA PADA TAHUN 2008-2012"

Acute flaccidity paralisys (AFP) atau lumpuh layu adlaah kelumpuhan yang bersifat layu (flaccid), terjadi dalam waktu kurang dari 14 hari yang bukan disebabkan oleh trauma. Lumpuh layu disebabkan oleh gangguan lower motor neuron, yaitu pada bagian badan sel di cornu anterior medula spinalis, saraf tepi sambungan saraf otot, atau otot. AFP adalah kasus lumpuh layu yang belum tentu diakibatkan oleh penyebab penyakit polio. 
Surveilans AFP adalah pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus AFP pada nak usia <15 tahun yang merupakan kelompok rentan terhadap penyakit polio, dalam upaya untuk menemukan adanya transmisi polio liar. Tujuan surveilans AFP antara lain mengidentifikasi daerah yang beresiko terjadinya transmisi virus polio liar, memantau perkembangan program eradikasi polio, dan membuktikan Indonesia bebas polio.
Link dibawah ini menjelaskan persentasi penderita AFP di Indonesia yang bukan disebabkan oleh penyakit polio.
http://downloads.ziddu.com/download/25296790/Tugas_epidemiologi_Rahayu_Danar_Wigati_201466002_sesi_2.docx.html

Minggu, 10 Januari 2016

TUGAS PROPOSAL BISNIS

Berwirausaha merupakan salat satu cara untuk memperoleh keuntungan dengan cara memanfaatkan peluang peluang yang ada di sekitar kita. Dalam usaha konsumen sangatlah penting dalam berkembang tidaknya suatu usaha yang dijalankan. Kita dapat memulai suatu usaha dengan mengelola usaha kecil – kecilan, dalam proposal ini penulis berinisiatif untuk mengelola usaha kecil yaitu “PiaPia WNSR” penulis memilih usaha tersebut karena peluangnya cukup besar serta banyak masyarakat yang menyukainya. 

dowload disini..